Total Pageviews

Thursday, October 20, 2011

beginilah seharusnya...





"...kegiatan shelving menjadi kegiatan yang sangat memabukkan di beberapa perpustakaan, terutama perpustakaan yang besar dan sistem peminjamannya terbuka atau open access..."

Berbagai upaya dilakukan perpustakaan untuk mengatasi problem shelving ini
ada yang digunakanlah sahabat perpustakaan, mahasiswa part time dan tim shelving sendiri untuk mengatasi hal tersebut.

diberbagai perpustakaan pula, juga menambahkan label warna untuk memudahkan meletakkan koleksi di rak, ssuai dengan subyeknya sehingga kalau ada pemustaka mencarinya, maka akan mudah diketemukan.

kegiatan shelving ini secara teori gampang dilaksanakan, 'hanya mengurutkan nomor kelasnya saja sesuai subyek yang dikaji'. namun pada kenyataannya, pekerjaan ini sangat menguras tenaga dan membuat 'grogi' bagi pemula yang bru pertama kali melakukannya.

itulah kemana, ketika teori shelving itu diberikan, harus diikuti dengan kegiatan praktek. seolah-olah mengshelving koleksi yang ada di rak.

praktek ini sangat penting terutama buat mahasiswa yang menjadi calon pustakawan.melakukan latihan-latihan terus menerus, akan membuat calon-calon pustakawan nyaman dan percaya diri ketika menginjakkan kakinya di dunia nyata, ditempat perpustakaan yang nyata...

biarkan...


semua orang boleh saja ber komentar
menjerit dengan segala bentuk dan gayanya
dan berusaha keras menahanku
karena sebab satu dan yang lainnya

namun..
aku masih tetap akan di sini
dengan caraku sendiri
menyelesaikan pekerjaan yang tersisa
sebagai amanah
tanpa harus ada perdebatan lagi
yang sungguh sangat menyakitkan

enyahlah kau
enyahlah kau dari mukaku
enyahlah kau dari duniaku

selamat tinggal keputus asaan
selamat tinggal kesedihan
selamat tinggal cercaan
selamat tinggal air mata

aku ada di penghujung ini
sendiri
meninggalkanmu

menuju kemerdekaanku...

Wednesday, August 3, 2011

literate terhadap informasi ?


Beberapa waktu yang lalu, aku diberi kesempatan untuk melakukan research untuk menyelesaikan dari dana DIKTI dalam program sandwich. Pada kesempatan beberapa bulan tersebut, aku mendapat kesempatan melihat secara langsung melihat implementasi information literacy di beberapa tempat pendidikan di Melbourne dan Hamilton. Aneh, implementasi literasi informasi sangat kelihatan diisini, semua seperti menggulirkan kepada pemahaman masal yang akhirnya bisa membangun sebuah system. pemahaman kolektif yang dibangun dalam rangka melahirkan sebuah system, yaitu dengan literate tehadap informasi
Seperti kita ketahui bersama bahwa konsep information literacy sudah sejak lama muncul dalam kehidupan manusia. Kerangka dasar information literacy didefinisikan dengan pemahaman dan kemampuan seseorang dalam menyadari kapan informasi itu dibutuhkan, dimana mendapatkan informasi tersebut, kemampuan untuk mengevaluasi dan menggunakan secara efektif kebutuhan informasinya. Dengan kata lain bahwa information literacy adalah sama dengan definisi melek informasi, sadar terhadap informasi. Dan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi untuk meningkatkan kemampuan information literacy.

Pengalaman aku selama berada di RMIT University (Royal Melbourne Information Technology) di Melbourne dan mengunjungi ke beberapa lembaga pendidikan di Hamilton, membuktikan bahwa information literacy sudah sangat bagus sekali diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan tersebut. Seperti diketahui bahwa penduduk Australia sendiri, telah mempunyai kesadaran akan kebutuhan informasinya. Budaya-budaya yang mereka miliki, sangat menjunjung sekali akan kesadaran informasi. Contoh yang paling sederhana saja bahwa untuk membuang sampah, mereka harus melakukannya dengan cerdas. Mereka harus memisahkan mana sampah yang bisa didaur ulang dan mana sampah yang tidak. Juga kesadaran akan kebutuhan teknologi. Bahkan di setiap keluarga,mereka mempunyai akses internet 24 jam untuk kepentingan kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk melihat cuaca, lokasi dan agenda-agenda penting lainnya.kemudian, sehingga kalau kita kembalikan ke suasana kampus, maka para mahasiswa dan pustakawan sangat familier dengan konsep information literacy ini. Hal itu sejalan dengan berbagai teori yang dimunculkan oleh para ahli. Salah satunya adalah teori Bigsix models.

Berdasarkan pada konsep Big6 yang dikemukakan oleh Mike Eisenberg and Bob Berkowitz dalam http://big6.com/ yang mengatakan bahwa pada tahap pertama dalam Information literacy adalah klarifikai dan pemahaman mengenai tugas dalam pencarian informasi.Yang kedua adalah mengidentifikai sumber informasi dan mencari lokasi informasi. Yang ketiga adalah menyeleki sumber informasi yang ditemukan. Kemudian yang ke empat adalah pengorganisasian informasi dan solusi yang ditawarkan.kemudian yang ke lima adalah mempresentasikan kepada para audiensi dengan menggunakan berbagai format. Yang terakhir adalah evaluasi, apakah terdapat problem atau masalah pencarian informasi dan apakah juga mendapatkan hal yang baru, dsb.
Sementara itu, juga terdapat konsep information literacy yang selalu digunakan di bidang informasi dan perpustakaan, yaitu kemampuan mengenali kapan informasi itu benar-benar dibutuhkan. Dalam hal inilah kemudian information literacy menjadi dasar darilife long learning. Karena kita dapat mengatakan bahwa orang yang ’literate’ terhadap informasi adalah orang yang :
mengenali secara akurat terhadap informasi untuk pengambailan keputusan
mengenali atau sadar akan kebutuhan informasi
mengetahui dimana informasi itu bisa ditemukan
dapat merumuskan pertanyaan berdasarkan kebutuhan informasi
mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan potensial dari umber informasi
membangun strategi-strategi penelusuran
mampu mengakses sumber-sumber informasi termasuk yang berbasis teknologi informasi
mampu mengevaluasi sumber-sumber informasi
mampu mengintegrasikan informasi yang baru kedalam pengetahuannya
menggunakan informasi baru untuk mengatasi masalah
menggunakan informasi secara etik dan legal

Dan hal itu sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Jesús Lau. Chair. 2006. Guidelines on Information Literacy for Lifelong Learning : Information Literacy Section. wwww.Ifla.Org/Vii/S42/Pub/Il-Guidelines2006.Pdf bahwa komponen information literacy itu adalah information fluency, user education,informatuon competences, information orientation dan lain sebagainya.

Dengan tidak mengurangi metode imitation dalam dunia pendidikan, paling tidak, kita di indonesia ini dapat lah mengadopsi pelajaran-pelajaran berharga tersebut.mana yang sesuai dengan budaya dan kondisi kita di indonesia, mari kita ambil.

Dengan melihat beberapa komponen diatas, maka kita para pustakawan dapat merenungkan apakah kita sudah termasuk di dalamnya atau belum ? Ketika kita belum termasuk di dalamnya, maka bersegeralah ‘taubat’ untuk segera mengupgrade pengetahuannya terhadap informasi karena kita akan segera membantu pemustaka dalam memanfaatkan informasi di perputakaan tercinta kita ini. Semoga…

[aku tulis ulang karena begitu aku ingin melihat bagaimana implementasi itu adaa di drepan mataku…]

literate terhadap informasi ?


Beberapa waktu yang lalu, aku diberi kesempatan untuk melakukan research untuk menyelesaikan dari dana DIKTI dalam program sandwich. Pada kesempatan beberapa bulan tersebut, aku mendapat kesempatan melihat secara langsung melihat implementasi information literacy di beberapa tempat pendidikan di Melbourne dan Hamilton. Aneh, implementasi literasi informasi sangat kelihatan diisini, semua seperti menggulirkan kepada pemahaman masal yang akhirnya bisa membangun sebuah system. pemahaman kolektif yang dibangun dalam rangka melahirkan sebuah system, yaitu dengan literate tehadap informasi
Seperti kita ketahui bersama bahwa konsep information literacy sudah sejak lama muncul dalam kehidupan manusia. Kerangka dasar information literacy didefinisikan dengan pemahaman dan kemampuan seseorang dalam menyadari kapan informasi itu dibutuhkan, dimana mendapatkan informasi tersebut, kemampuan untuk mengevaluasi dan menggunakan secara efektif kebutuhan informasinya. Dengan kata lain bahwa information literacy adalah sama dengan definisi melek informasi, sadar terhadap informasi. Dan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi untuk meningkatkan kemampuan information literacy.

Pengalaman aku selama berada di RMIT University (Royal Melbourne Information Technology) di Melbourne dan mengunjungi ke beberapa lembaga pendidikan di Hamilton, membuktikan bahwa information literacy sudah sangat bagus sekali diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan tersebut. Seperti diketahui bahwa penduduk Australia sendiri, telah mempunyai kesadaran akan kebutuhan informasinya. Budaya-budaya yang mereka miliki, sangat menjunjung sekali akan kesadaran informasi. Contoh yang paling sederhana saja bahwa untuk membuang sampah, mereka harus melakukannya dengan cerdas. Mereka harus memisahkan mana sampah yang bisa didaur ulang dan mana sampah yang tidak. Juga kesadaran akan kebutuhan teknologi. Bahkan di setiap keluarga,mereka mempunyai akses internet 24 jam untuk kepentingan kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk melihat cuaca, lokasi dan agenda-agenda penting lainnya.kemudian, sehingga kalau kita kembalikan ke suasana kampus, maka para mahasiswa dan pustakawan sangat familier dengan konsep information literacy ini. Hal itu sejalan dengan berbagai teori yang dimunculkan oleh para ahli. Salah satunya adalah teori Bigsix models.

Berdasarkan pada konsep Big6 yang dikemukakan oleh Mike Eisenberg and Bob Berkowitz dalam http://big6.com/ yang mengatakan bahwa pada tahap pertama dalam Information literacy adalah klarifikai dan pemahaman mengenai tugas dalam pencarian informasi.Yang kedua adalah mengidentifikai sumber informasi dan mencari lokasi informasi. Yang ketiga adalah menyeleki sumber informasi yang ditemukan. Kemudian yang ke empat adalah pengorganisasian informasi dan solusi yang ditawarkan.kemudian yang ke lima adalah mempresentasikan kepada para audiensi dengan menggunakan berbagai format. Yang terakhir adalah evaluasi, apakah terdapat problem atau masalah pencarian informasi dan apakah juga mendapatkan hal yang baru, dsb.
Sementara itu, juga terdapat konsep information literacy yang selalu digunakan di bidang informasi dan perpustakaan, yaitu kemampuan mengenali kapan informasi itu benar-benar dibutuhkan. Dalam hal inilah kemudian information literacy menjadi dasar darilife long learning. Karena kita dapat mengatakan bahwa orang yang ’literate’ terhadap informasi adalah orang yang :
mengenali secara akurat terhadap informasi untuk pengambailan keputusan
mengenali atau sadar akan kebutuhan informasi
mengetahui dimana informasi itu bisa ditemukan
dapat merumuskan pertanyaan berdasarkan kebutuhan informasi
mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan potensial dari umber informasi
membangun strategi-strategi penelusuran
mampu mengakses sumber-sumber informasi termasuk yang berbasis teknologi informasi
mampu mengevaluasi sumber-sumber informasi
mampu mengintegrasikan informasi yang baru kedalam pengetahuannya
menggunakan informasi baru untuk mengatasi masalah
menggunakan informasi secara etik dan legal

Dan hal itu sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Jesús Lau. Chair. 2006. Guidelines on Information Literacy for Lifelong Learning : Information Literacy Section. wwww.Ifla.Org/Vii/S42/Pub/Il-Guidelines2006.Pdf bahwa komponen information literacy itu adalah information fluency, user education,informatuon competences, information orientation dan lain sebagainya.

Dengan tidak mengurangi metode imitation dalam dunia pendidikan, paling tidak, kita di indonesia ini dapat lah mengadopsi pelajaran-pelajaran berharga tersebut.mana yang sesuai dengan budaya dan kondisi kita di indonesia, mari kita ambil.

Dengan melihat beberapa komponen diatas, maka kita para pustakawan dapat merenungkan apakah kita sudah termasuk di dalamnya atau belum ? Ketika kita belum termasuk di dalamnya, maka bersegeralah ‘taubat’ untuk segera mengupgrade pengetahuannya terhadap informasi karena kita akan segera membantu pemustaka dalam memanfaatkan informasi di perputakaan tercinta kita ini. Semoga…

[aku tulis ulang karena begitu aku ingin melihat bagaimana implementasi itu adaa di drepan mataku…]

lagi



...
lagi,
aku ingin menuliskannya sekali lagi
hingga menyambut kau pulang kembali
hmm, 1 hari dua puisi
aku tunggu itu sayang...

seperti puisi yang kau tuliskan
seperti nyanyi yang kau lantunkan
seperti senyum yang kau sunggingkan
seperti pandang yang gkau kerlingkan
seperti cinta yang kau berikan
aku tak pernah,
tak pernah merasa cukup

Wednesday, November 24, 2010

Kau yang tak pernah tidur menjaganya...


tak habis-habis doa dipanjatkan

agar supaya menjagamu

menjaga kesehatanmu

menjaga pikiranmu

dan menjaga segalanya tentang kau, nak.

menuntunmu dan mengarahkanmu

dalam menempuh perjuangan jihadmu

saat ini

rasa kangen begitu mendalam

melekatkan doa dihatiku

untukmu,anakku...



sehat dan tegarlah

optimis dan semangatlah

karena kita semua yakin,

bahwa Tuhan tidak pernah tidur

untuk menjagamu selalu....

ketika aku...






KETIKA AKU...

ketika aku menyayangimu, 
apakah benar bahwa aku memang tulus menyayangimu 
tidak merupakan pelampiasan dari menyayangi diriku sendiri ?

ketika aku menyayangimu
apakah juga benar bahwa aku peduli dengan dirimu
memahami seluruh kehidupanmu?
tidak merupakan alat buat memuaskan keinginanku ?

dan ketika kau juga meyayangiku
apakah bukan sebuah keterpaksaan saja untuk menyenangkan diriku?
dan ketika kau juga memperhatikan aku
apakah bukan sebuah keterikatan saja yang bisa membuatku bangkit?

juga, ketika kau bersungguh-sungguh mengharapkan aku
apakah itu bukan sebuah kekangan yang bisa membuatku mati?

hentikan kemunafikan ini
enyahkan ketidakterusterangan ini
yang hanya akan membuat luka menganga
yang hanya membuat menanti sesaat yang tidak bertepi

aku berpeluh menjalani
kau berdarah-darah mengiringi
aku berharap menanti
kau terkesima mengunggu di penghujung

dan berharap mendapatkan kesetiaan yang tiada berakhir
kasih sayang yang tiada tara
untuk selalu diikatkan
pada sebuah tujuan besar
menjadi bermakna
dan lebih bermakna...

walaupun dalam keterbatasan....