
Beberapa waktu yang lalu, aku diberi kesempatan untuk melakukan research untuk menyelesaikan dari dana DIKTI dalam program sandwich. Pada kesempatan beberapa bulan tersebut, aku mendapat kesempatan melihat secara langsung melihat implementasi information literacy di beberapa tempat pendidikan di Melbourne dan Hamilton. Aneh, implementasi literasi informasi sangat kelihatan diisini, semua seperti menggulirkan kepada pemahaman masal yang akhirnya bisa membangun sebuah system. pemahaman kolektif yang dibangun dalam rangka melahirkan sebuah system, yaitu dengan literate tehadap informasi
Seperti kita ketahui bersama bahwa konsep information literacy sudah sejak lama muncul dalam kehidupan manusia. Kerangka dasar information literacy didefinisikan dengan pemahaman dan kemampuan seseorang dalam menyadari kapan informasi itu dibutuhkan, dimana mendapatkan informasi tersebut, kemampuan untuk mengevaluasi dan menggunakan secara efektif kebutuhan informasinya. Dengan kata lain bahwa information literacy adalah sama dengan definisi melek informasi, sadar terhadap informasi. Dan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi untuk meningkatkan kemampuan information literacy.
Pengalaman aku selama berada di RMIT University (Royal Melbourne Information Technology) di Melbourne dan mengunjungi ke beberapa lembaga pendidikan di Hamilton, membuktikan bahwa information literacy sudah sangat bagus sekali diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan tersebut. Seperti diketahui bahwa penduduk Australia sendiri, telah mempunyai kesadaran akan kebutuhan informasinya. Budaya-budaya yang mereka miliki, sangat menjunjung sekali akan kesadaran informasi. Contoh yang paling sederhana saja bahwa untuk membuang sampah, mereka harus melakukannya dengan cerdas. Mereka harus memisahkan mana sampah yang bisa didaur ulang dan mana sampah yang tidak. Juga kesadaran akan kebutuhan teknologi. Bahkan di setiap keluarga,mereka mempunyai akses internet 24 jam untuk kepentingan kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk melihat cuaca, lokasi dan agenda-agenda penting lainnya.kemudian, sehingga kalau kita kembalikan ke suasana kampus, maka para mahasiswa dan pustakawan sangat familier dengan konsep information literacy ini. Hal itu sejalan dengan berbagai teori yang dimunculkan oleh para ahli. Salah satunya adalah teori Bigsix models.
Berdasarkan pada konsep Big6 yang dikemukakan oleh Mike Eisenberg and Bob Berkowitz dalam http://big6.com/ yang mengatakan bahwa pada tahap pertama dalam Information literacy adalah klarifikai dan pemahaman mengenai tugas dalam pencarian informasi.Yang kedua adalah mengidentifikai sumber informasi dan mencari lokasi informasi. Yang ketiga adalah menyeleki sumber informasi yang ditemukan. Kemudian yang ke empat adalah pengorganisasian informasi dan solusi yang ditawarkan.kemudian yang ke lima adalah mempresentasikan kepada para audiensi dengan menggunakan berbagai format. Yang terakhir adalah evaluasi, apakah terdapat problem atau masalah pencarian informasi dan apakah juga mendapatkan hal yang baru, dsb.
Sementara itu, juga terdapat konsep information literacy yang selalu digunakan di bidang informasi dan perpustakaan, yaitu kemampuan mengenali kapan informasi itu benar-benar dibutuhkan. Dalam hal inilah kemudian information literacy menjadi dasar darilife long learning. Karena kita dapat mengatakan bahwa orang yang ’literate’ terhadap informasi adalah orang yang :
mengenali secara akurat terhadap informasi untuk pengambailan keputusan
mengenali atau sadar akan kebutuhan informasi
mengetahui dimana informasi itu bisa ditemukan
dapat merumuskan pertanyaan berdasarkan kebutuhan informasi
mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan potensial dari umber informasi
membangun strategi-strategi penelusuran
mampu mengakses sumber-sumber informasi termasuk yang berbasis teknologi informasi
mampu mengevaluasi sumber-sumber informasi
mampu mengintegrasikan informasi yang baru kedalam pengetahuannya
menggunakan informasi baru untuk mengatasi masalah
menggunakan informasi secara etik dan legal
Dan hal itu sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Jesús Lau. Chair. 2006. Guidelines on Information Literacy for Lifelong Learning : Information Literacy Section. wwww.Ifla.Org/Vii/S42/Pub/Il-Guidelines2006.Pdf bahwa komponen information literacy itu adalah information fluency, user education,informatuon competences, information orientation dan lain sebagainya.
Dengan tidak mengurangi metode imitation dalam dunia pendidikan, paling tidak, kita di indonesia ini dapat lah mengadopsi pelajaran-pelajaran berharga tersebut.mana yang sesuai dengan budaya dan kondisi kita di indonesia, mari kita ambil.
Dengan melihat beberapa komponen diatas, maka kita para pustakawan dapat merenungkan apakah kita sudah termasuk di dalamnya atau belum ? Ketika kita belum termasuk di dalamnya, maka bersegeralah ‘taubat’ untuk segera mengupgrade pengetahuannya terhadap informasi karena kita akan segera membantu pemustaka dalam memanfaatkan informasi di perputakaan tercinta kita ini. Semoga…
[aku tulis ulang karena begitu aku ingin melihat bagaimana implementasi itu adaa di drepan mataku…]